<< Sebelumnya : sambungan dari : PART 2
“Ai sihampir do ahu gabe gambir , tandiang gabe toras
To dia pe ahu so tampil, tu begu aha pe so bolas”
(artinya : kemampuan saya tidak muat dan bahkan setan sekali-kalipun tidak akan menerima saya .
Maksudnya : tak ada orang yang menyukai saya, orang orang jahat sekalipun tidak ).
Maka kata si tapi mombang haomasan, “Atik na sai naeng mardengke do hamu soada durung, sai naeng mangompa soada tanggurung ?
(artinya : mungkin suadara selalu mau menangkap ikan tetapi tidak mempunyai penangguk dan selalu mau menggendong tapi tidak punya punggung, Maksudnya : mungkin suadara selalu hendak mengerjakan sesuatu tetapi tidak ada alat dan tenaga).
Dan di sambung putri itu lagi : “haruus juga ingat , Ito, sebelum berangkat ke negri orang , harus memperhatikan filsafat nenek moyang kita :
Jolo tinaha garungniba, jolo niantan sulangatniba’
(artinya : harus lebih dauhulu disukat isi perian kita dan ditimbang berat alat penangkap ikan kita.
Maksudnya : timbang dahulu kemampuanmum tenagamu dan kecakapanmu).
Maka sahut si bungkal sodugaon, “ Ya, boru ni rajanami, semua perkataan boru niraja itu, adalah benar, tetapi saya pun selalu memperhatikan itu semua, karena orang tua saya pun begitu juga nasihatnya. Dna bukanlah saya hendak memuji diri kalau saya katakan : semua nasihat dan petuah mereka itu selalu saya turuti dengan cermat, karena itulah saya selama ini :
Sai marbo do ahu di tapian, sai dungo di tonga onan
Sai hutundali do siudor na so tali, hualo sigirahon hna so bonang.”
(arti filsafat ini : saya selalu menyerukan “bo”, di tepian dan selalu waspada di tengah pasar; saya selalu melawan orang yang mempersiapkan sesuatu untuk ditenun yang bukan benang.
Maksudnya : saya selalu berlaku sopan di negri orang dan selalu waspada terhadap segala kemungkinan dan selalu menjauhkan diri dari orang jahat dan melawan mereka itu).
“namum”, kata si bungkal sodugaon melanjutkan perkataanya, “ saya ini tetap melarat saja. Jangna dikata lagi tentang mendekati gadis-gadis. Seorang pun tiada yang mau menegur saya. Sayalah yang dinamai nenek-moyang kita:
Bau so jolo busuk, bari so jolo masak”
( artinya : berbau busu tetapi belum dalam keadaan busuk, basi walaupun belum masak .
Maksudnya : tidak disukai siapapun ,walaupun belum nyata kekurangannya “).
“Karena itu ,” lanjut pemuda itu , “aganan nama ahu bulung langge, unang bulung singkoru;
Aganan nama ahu mate, sian na mangolu.”
( artinya : lebih baiklah asya mati daripada hidup)/
maka berkatalah si tapi Mombang Haomasan, “jangan begitu,ito. Ingatlah Nasihat Nenek-moyang kita :
Hotang Binebebebe, hotang pinulos pulos;
Artinya : Jangan putus asa, didunia ini banyak orang yang sama penderitaanya dengan kita).
“selain itu,ito”, sambung gadis itu, “tentang ucapan ito, mengenai Gadis-Gadis yang tidak mau menegur ito, sabarlah ito, ingat saja petuah :
sai adong do huling kuling dongan ni holi-holi;
Sai adong do na so muli rongkap ni na so mangoli.”
(artinya : selalu ada gadis-gadis yang belum kawin untuk jodoh pemuda-pemuda yang belum beristri).
“tetapi”, sambung si gadis itu,” dalam mencari jodoh,ito harus pula mengingat filsafat leluhur kita yang berbunyai :
pili- pili tobu, tarpilit na ruangon.”
( artinya : seperti memilih tebu, terpilih yang berlobang.
Noot Penulis : tebu yang busuk biasanya tidak nampak dari luar karena kulitnya tidak turut rusak, ettapi kalau diperiksa dengan teliti, pasti akan nampak lobang kulit itu.
Maksud filsafat itu ialah : yang tidak teliti memilih teman hidupnya besar kemungkinan akan mendapat wanita yang tidak baik).
Tetapi sekonyong-konyong terdengarlah ruangan seorang anak, “amang oi amang, ( aduh bapak ), sakitnya !”, cepat-cepat si bungkal sodugaon mengarahkan pandangannya kearah datangnya rauangan itu dan melihat seorang anak yang luka parah karena kakinya terkena “tangke” ( sejenis kampak )waktu ia membelah kayu. Si bungkal sodugaon berlari secepat-cepatnya mendapat kan anak itu, lalu meminta beberapa helai daun sirih dari seorang ibu. Sehelai daun sirih itu dikunyah lumat-lumat oleh pemuda itu dan didempetkan ke atas luka anak itu. Lalu diambilnya sehelai lagi yang anak lebar dan dipakai sebagai pembalut luka itu. Lalu diikatnya dengan tali yang lunak. Dan bereslah pertolongan pertama kuno itu.
( Noot Penulis : dahulu tentu tidak ada obat-obatan modern seperti jodium dan obat merah. Tetapi obat dan cara pengobatan seperti tersebut diatas tadipun tidak kurang mujurnya. Dan sirih yang dikunya besar khasiatnya menyembuhkan luka. Air Liur sendiri tidak mengangung kuman-kuman).
Adapun si Tapi mombang Haomasan terus saya asyik memperhatikan dan mengikuti perbuatan anak muda itu. Sekarang ia yakin bahwa pemuda itu anak raja yang terpelajar, ramah dan suka menolong.
Malam harinya kedua insan yang berlainan jenis kelamin itu tidak dapat tidur ditempatnya masing-masing. Keduanya sama-sama tergoda oleh pembicaraan-pembicaraan dan apa yang terjadi pada siang harinya . Suara yang seorang selalu mengiang-iang di telinga yang lain dan muka yang cantik seorang selalu terbayang-bayang di mata yang lain. Tetapi sebelum sang surya menampakkan diirnya, kedua orang muda itu telah mengambil keputusan masing-masing. Si bungkal Sodugaon berkata dalam hatinya,
On do tunudu ni nipingku tinorjok ni pordangku,
On do pinaima ni tondingku tinodo ni rohangku.
(artinya : ini dia yang saya tunggu selama ini, inilah baru yang berkenan dihatiku).
Tapi si mombang Haomasan pun mengambil tekad :
Tung piso sian ginjang sangkalan sian toru,
Ingkong on do siadopanku.
( artinya : walaupun saya diaancam dengan pisau dari atas serta landasan dari bawah, saya tidak akan mundur sampai dia itu menjadi teman hidupku).
Akhir cerita itu si Tapi Mombang Haomasan dan si Bungkal Sodugaon kemudian menikahm, karena nyata, Mardomu do buhu tu ruas.
( Artinya filsafat ini : bertemu buku dan ruas.
Maksudnya : jejaka dan gadis cocok benar satu sama lain, baik tentang pikiran maupun tentang pendapat ).
---THE END---
Wednesday, January 18, 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)
