Tuesday, November 15, 2005

BONEKA

Hari terakhir sebelum Natal, aku terburu-buru ke supermarket untuk

membeli hadiah2 yang semula tidak direncanakan untuk dibeli. Ketika

melihat orang banyak, aku mulai mengeluh: "Ini akan makan waktu

selamanya, sedang masih banyak tempat yang harus kutuju" "Natal
benar2

semakin menjengkelkan dari tahun ke tahun. Kuharap aku bisa
berbaring,

tidur, dan hanya terjaga setelahnya" Walau demikian, aku tetap
berjalan

menuju bagian mainan, dan di sana aku mulai mengutuki harga-harga,

berpikir apakah sesudahnya semua anak akan sungguh-sungguh bermain

dengan mainan yang mahal.



* Saat sedang mencari-cari, aku melihat seorang anak laki2 berusia

sekitar 5 tahun, memeluk sebuah boneka. Ia terus membelai rambut
boneka

itu dan terlihat sangat sedih. Aku bertanya-tanya untuk siapa boneka

itu. Anak itu mendekati seorang perempuan tua di

dekatnya: 'Nenek, apakah engkau yakin aku tidak punya cukup uang?'

Perempuan tua itu menjawab: 'Kau tahu bahwa kau tidak punya cukup
uang

untuk membeli boneka ini, sayang.' Kemudian Perempuan itu meminta
anak

itu menunggu di sana sekitar 5 menit sementara ia berkeliling ke
tempat

lain. Perempuan itu pergi dengan cepat. Anak laki2 itu masih

menggenggam boneka itu di tangannya.



* Akhirnya, aku mendekati anak itu dan bertanya kepada siapa dia
ingin

memberikan boneka itu.'Ini adalah boneka yang paling disayangi adik

perempuanku dan dia sangat menginginkannya pada Natal ini. Ia yakin

Santa Claus akan membawa boneka ini untuknya' Aku menjawab mungkin

Santa Claus akan membawa boneka untuk adiknya, dan supaya ia jangan

khawatir. Tapi anak laki2 itu menjawab dengan sedih 'Tidak, Santa
Claus

tidak dapat membawa boneka ini ke tempat dimana adikku berada saat
ini.

Aku harus memberikan boneka ini kepada mama sehingga mama dapat

memberikan kepadanya ketika mama sampai di sana.' Mata anak laki2 itu

begitu sedih ketika mengatakan ini 'Adikku sudah pergi kepada Tuhan.

Papa berkata bahwa mama juga segera pergi menghadap Tuhan, maka
kukira

mama dapat membawa boneka ini untuk diberikan kepada adikku.'
Jantungku

seakan terhenti.



* Anak laki2 itu memandangku dan berkata: 'Aku minta papa untuk

memberitahu mama agar tidak pergi dulu. Aku meminta papa untuk
menunggu

hingga aku pulang dari supermarket.' Kemudian ia menunjukkan fotonya

yang sedang tertawa. Kamudian ia berkata: 'Aku juga ingin mama
membawa

foto ini supaya tidak lupa padaku. Aku cinta mama dan kuharap ia
tidak

meninggalkan aku tapi papa berkata mama harus pergi bersama adikku.'

Kemudian ia memandang dengan sedih ke boneka itu dengan diam.



* Aku meraih dompetku dengan cepat dan mengambil beberapa catatan
dan

berkata kepada anak itu. 'Bagaimana jika kita periksa lagi, kalau2

uangmu cukup?' 'Ok' katanya. 'Kuharap punyaku cukup.' Kutambahkan

uangku pada uangnya tanpa setahunya dan kami mulai menghitung.
Ternyata

cukup untuk boneka itu, dan malah sisa. Anak itu berseru: 'Terima
Kasih

Tuhan karena memberiku cukup uang' Kemudian ia memandangku dan

menambahkan: 'Kemarin sebelum tidur aku memohon kepada Tuhan untuk

memastikan bahwa aku memiliki cukup uang untuk membeli boneka ini

sehingga mama bisa memberikannya kepada adikku. DIA mendengarkan aku.

Aku juga ingin uangku cukup untuk membeli mawar putih buat mama, tapi

aku tidak berani memohon terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi DIA

memberiku cukup untuk membeli boneka dan mawar putih.' 'Kau tahu,

mamaku suka mawar putih'



* Beberapa menit kemudian, neneknya kembali dan aku berlalu dengan

keretaku. Kuselesaikan belanjaku dengan suasana hati yang sepenuhnya

berbeda dari saat memulainya. Aku tidak dapat menghapus anak itu dari

pikiranku. Kemudian aku ingat artikel di koran lokal 2 hari yang
lalu,

yang menyatakan seorang pria mengendarai truk dalam kondisi mabuk dan

menghantam sebuah mobil yang berisi seorang wanita muda dan seorang

gadis kecil. Gadis kecil itu meninggal seketika, dan ibunya dalam

kondisi kritis. Keluarganya harus memutuskan apakah harus mencabut
alat

penunjang kehidupan, karena wanita itu tidak akan mampu keluar dari

kondisi koma. Apakah mereka keluarga dari anak laki2 ini?



* 2 hari setelah pertemuan dengan anak kecil itu, kubaca di koran

bahwa wanita muda itu meninggal dunia. Aku tak dapat menghentikan

diriku dan pergi membeli seikat mawar putih dan kemudian pergi ke
rumah

duka tempat jenasah dari wanita muda itu diperlihatkan kepada orang2

untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum penguburan. Wanita itu

di sana, dalam peti matinya, menggenggam setangkai mawar putih yang

cantik dengan foto anak laki2 dan boneka itu ditempatkan di atas

dadanya. Kutinggalkan tempat itu dengan menangis, merasa hidupku
telah

berubah selamanya. Cinta yang dimiliki anak laki2 itu kepada ibu dan

adiknya, sampai saat ini masih sulit untuk dibayangkan. Dalam sekejap

mata, seorang pria mabuk mengambil semuanya dari anak itu.




FRIENDS ARE LIKE ANGELS,

WHO HELP US FLY WHEN OUR WINGS HAVE FORGOTTEN HOW TO FLY

Semangkuk Mie

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena
sangat marah, Ana
segera meninggalkan
rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu
jalan, ia baru
menyadari
bahwa ia sama sekali
tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai
bakmi dan ia
mencium
harumnya aroma
masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi,
tetapi ia tdk
mempunyai
uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan
kedainya, lalu
berkata
"Nona, apakah engkau
ingin memesan semangkuk bakmi?" " Ya, tetapi, aku tdk
membawa uang"
jawab
Ana dengan malu- malu

"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu" jawab si
pemilik kedai.
"Silahkan
duduk, aku akan
memasakkan bakmi untukmu".

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan
semangkuk bakmi.
Ana
segera makan
beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.
"Ada apa nona?"
Tanya
si pemilik kedai. "tidak apa-apa" aku hanya terharu
jawab Ana sambil
mengeringkan air matanya.

"Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku
semangkuk bakmi !,
tetapi,? ibuku sendiri,
setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan
mengatakan
kepadaku
agar jangan kembali
lagi ke rumah" "Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi
begitu peduli
denganku dibandingkan dengan
ibu kandungku sendiri" katanya kepada pemilik kedai

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana,
menarik nafas
panjang dan
berkata "Nona
mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal
ini, aku hanya
memberimu
semangkuk bakmi
dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan
nasi untukmu saat
kau
kecil sampai saat
ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan
kau malah
bertengkar
dengannya"

Ana, terhenyak mendengar hal tsb. "Mengapa aku tdk
berpikir ttg hal
tsb? Utk
semangkuk bakmi dr
org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih,
tetapi kepada ibuku yg
memasak untukku selama
bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan
kepedulianku kepadanya.
Dan
hanya karena
persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan
dirinya untuk
segera
pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia
memikirkan kata-kata yg
hrs
diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di
ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah
letih dan cemas.
Ketika
bertemu dengan Ana,
kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Ana
kau sudah pulang,
cepat masuklah, aku
telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu
sebelum kau tidur,
makanan
akan menjadi
dingin jika kau tdk memakannya sekarang". Pada saat
itu Ana tdk dapat
menahan tangisnya dan ia
menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih
kpd org lain
disekitar kita untuk suatu
pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi
kpd org yang
sangat
dekat dengan kita (keluarga)
khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita
berterima kasih
kepada
mereka seumur hidup
kita.

RENUNGAN:

BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA
KITA. SERINGKALI
KITA

MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES
ALAMI YANG BIASA
SAJA; TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA
ADALAH HADIAH PALING
BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR.
PIKIRKANLAH HAL
ITU??
APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT
DARI ORANG TUA
KITA?

Filsafat Bolak Balik

Masih muda, korbankan kesehatan cari harta.
Sudah tua, korbankan harta cari kesehatan

Karena harta, orang asing menjadi seperti saudara
Karena harta, saudara menjadi seperti orang asing

Orang kaya mampu beli ranjang enak,
tapi gak bisa tidur enak (stress...euiii)


Orang miskin gak mampu beli ranjang enak,
tapi bisa tidur enak (karena capek jadi kuli)

Orang kaya punya duit buat foya-foya,
tapi gak punya waktu

Orang miskin punya waktu buat foya-foya,
tapi gak punya duit

Masih muda pengen jadi kaya biar nikmatin kekayaan
Udah kaya gak punya waktu buat nikmatin kekayaan
Sekali punya waktu buat nikmatin kekayaan
udah keburu tua gak ada tenaga

Waktu bujangan, kita berharap untuk segera menikah...

Sudah menikah, eh kita berharap mo jadi bujangan lagi...

Kumpulan Lagu batak Terbaru

Kumpulan lagu lagu mp3 batak terbaru sudah di upload
silahkan download di

SINI